Translate

Tuesday, June 27, 2017

Behind the Scene of Pine Bag (CL25)


   

First, thanks to Bilqis yang sudah mengenalkanku pada mbak Bekti Galeri Beidi, dan memasukkanku ke group jualannya. Thanks to Fonza yang mengenalkan dan meminjamiku  buku2 craft Taiwan, terutama CL alias Cotton Life. Dan terutama suwun ke mbak Bekti dan mas Amrih atas kerjasamanya.

Untuk cerita lengkap persahabatanku dengan buku tutorial bag making ada disini.
Khusus kontribusiku di CL25, ceritanya berawal saat mbak Bekti selaku pemilik Galeri Beidi membuat woro2 di group tentang dibukanya kesempatan bagi crafter Indonesia untuk jadi kontributor di majalah Cotton Life edisi 25. Pengumuman dibuka tanggal 6 Februari 2017. Kontribusi foto via email ditunggu paling lambat tanggal 10 Maret.

Aduh, pengin mengadu nasib nih, pikirku.. Tapi kok ya proses editing buku Tas Handmade dari A ke Z mendekati duedate… Maka sempat pupuslah keinginan itu. 

Tapi, awal Maret, di tengah kramnya tangan kananku me-lay out buku THAZ—yes, buku ini selain isinya dari A ke Z soal tas handmade, proses pembuatannya pun dari A ke Z kupegang sendiri, hanya bagian pengurusan ISBN dan percetakan yang kuserahkan ke teman :p--kuputuskan untuk mengikuti hati kecil, menunjukkan bahwa crafter Indonesia pun tak kalah ketjenya dengan crafter dari luar.
Tanggal 9 habis maghrib, pilih2 stok model dan polapun kulakukan. Untuk pembuatan buku THAZ aku memang membuat lebih dari 23 desain dan pola, meski akhirnya hanya 15 yang kuputuskan pakai di buku indie publishingku itu. Kelar pilih model, aku lalu pilih2 bahan. Niatnya mau pakai kain tenun dari Pekalongan. Tenun hasil produksi seorang teman yang pewarnaannya dikerjakan sendiri selama 13 tahun try and error. Sayangnya, bahan minim. Maka beralihlah aku ke stok bahan yang masih aman, kanvas linen.

Desain oret-oretan di kertas aku terjemahkan 1:1 dalam bentuk pola di karton. Lanjut potong kain dari jiplak pola. Lalu kumpulin printilan ie; ristleting, ring, webbing dll, .. Cekrek cekrek cekrek, foto.

Waktu terus merambat, anak-anak dan suami pun yang tadinya menemani sudah beranjak ke kamar. Tinggal aku masih berasyik masyuk dengan bahan, hingga jam 2 dini hari. Yes, seorang crafter, penulis, atau siapapun yang bekerja dengan passionnya pasti tahu, bahwa ‘musuh utama’ adalah jam yang seakan ngajak berlari sementara ide di kepala masih melesak-lesak ke dada minta dieksekusi segera. Hehe. Meski masih excited berhasil memecah kebuntuan teknik baliknya, aku tinggal tidur aja si Pine. Waktunya memberi hak ke body. Btw, aku sempat ndedel lho, karena teknik tas Tweeny yg mau kupakai ternyata nggak bisa kuterapkan di Pine.

Pagi, rutinitas di Ayaran berjalan seperti biasa. Admin rekap2 jawab chat, si mbak ngelayani pembeli offline dll. Sementara emak Ayaran, kena detlen nyelesaiin tas  jam 10, kalau mau dapat cahaya yang pas untuk pemotretan. Yup, cahaya dengan intensitas cukup bagus untuk pemotretan luar ruangan memang harusnya tak lebih dari jam 10. Paling bagus jam  8 pagi. Meski itu tergantung cuaca juga sih.

Menjinjing 2 tas plus property, aku lari ke taman kompleks dan  sudut masjid. Cekrek cekrek . Balik rumah, letakkan tuh tas dulu, tinggal mandi dan siapin masakan buat hubby n kiddos. :p
Usai dhuhur, waktunya edit foto2. Dipoles pakai photoshop, ditata berdasarkan urutan waktu pakai indesign, disave siap kirim pakai PDF menjelang maghrib. Instruksionalnya, belummm..:P.
Eh, sudah jumpalitan pakai SKS (sistem kebut semalam), ternyata mbak Bekti baik hati ngasih tambahan waktu 4x24 jam. Pengin ngedit lagi, sebenarnya. Tapi sudahlah.. balik lagi kerjain buku THAZ dan berdoa semoga Pine Bag atau Hoblet (yap, aku ngirim dua tutorial model tas) masuk kriteria redaktur CL.


Lalu, sampailah saat pengumuman itu tiba. Ada 5 nama yang lolos dengan Pine Bag dan tas milik mbak Titi yang disertakan tutorialnya. 3 lagi kreasi dari crafter Indonesia, nggak pakai tutorial. Alhamdulillah… kok passs dengan kuterima dummy book THAZ hasil editing dan lay outanku sendiri plus pola 1:1. Tentang dummy book, ntar aku ceritain lain kali.

Usai pengumuman, kerjaku kemudian adalah memberi deskripsi di setiap foto tutorial. Pakai bahasa Inggris. Untungnya punya buku bag making terbitan USA yang pakai bahasa inggris,(Bags, Totes, & Purses by Moya’s Workshop) jadi nggak terlalu kagok. Bisa ngintip terms instruksional disana. Ya, membuat tutorial, memang harusnya memakai bahasa instruksional. Bukan bahasa narasi yang panjang. Berbeda sense nya.

Kemampuan mengoperasikan software photoshopku tertantang juga disini. Karena pas foto bahan, sejatinya Pine bag aku rencanakan memakai webbing. Jadi karakternya lebih casual. Ndilalah, di tengah jalan kok dia lebih pas pakai handle set sudah jadi, ya sudah, fotonya yang ngalah, diedit aja.
Langkah selanjutnya, pola. Karena harus ngirim ke Taiwan, dan akan dicetak plus dijual dalam bentuk ebook, nggak ada cara lain selain semua harus dalam bentuk file. Pola, kugambar ulang. Kali ini aku harus berakrab ria sama corel draw, kalau bisa milih, sebenarnya aku prefer autoCAD yang dulu pernah aku akrabi. Tapi setelah hampir 12,5 tahun resign, ilmu autoCAD udah raib semua dari kepala. Lebih mudah belajar Corel .

Soal teknis selesai, proses lanjut ke penandatanganan kerjasama. Peran mbak Bekti nih yang menjadi menghubung antara kami, crafter Indonesia dengan pihak redaksi/penerbit CL.
Saat kutulis ini, 2 Syawal 1438H, atau 26 Juni 2017, di group mbak Bekti sendiri sudah ada list 70-an yang PO. Belum yang koment di postinganku di Fesbuk. Alhamdulillah..

Akhir tulisan mengapakah aku merasa perlu menuliskan ini?

Pertama, karena aku ingin sharing proses si Pine hingga bisa satu binding di majalah CL dengan salah satu penulis buku Big Shinny yang cetar itu. Intinya, jangan ragu dan sungkan memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan orang, jika itu untuk perbaikan dan kebaikan.

Kedua, hindari  kerja SKS. Efeknya bisa sampai gak sempat mandi dan makan ntar. hahaha. At least, it works for me. Tapi jika memang itu diperlukan (biasanya karena si mood tak kunjung datang) ya hajar saja. Mati-matianlah kau berkreasi dan kerja. No excuses.

Ketiga, penguasaan software computer akan mempermudah kerjamu, dibanding jika ketrampilan itu tak kau punyai.

Keempat, positif thinkinglah selalu ke orang, focus pada apa yang bisa kau lakukan, alih-alih iri dan memikirkan kelebihan yang dimiliki orang lain. àeh, ini ada hubungan teknisnya nggak sih ke point di atas? Wkwkwk.. tauklah.. pokok e pokussss… Wis..gitu aja. Thank you udah baca ya..


nDriyorejo, 26 Juni 2017, 2 Syawal 1438H

Buku, Tutorial, dan Media Sosial


Tahun 2008, ketika stagnan menulis novel, plus buku kehamilan duetku dengan seorang sahabat masih jalan di tempat, aku selingkuh dengan craft. Terutama jahit menjahit yang sebenarnya pernah kuakrabi masa SD dulu. Meski tomboy, aku juga memiliki boneka lho... Dua biji. Satu boneka anjing, dan satu boneka (semacam) Barbie sedang mandi. Si Barbie ini bahannya karet, tidak sekaku Barbie sekarang. Tapi posisinya kaku, duduk dengan tangan ke atas tengah keramas. Aku tak tahu bapak atau ibuku dapat darimana kedua boneka itu. Yang pasti, mereka tidak mampu untuk membelikan anaknya mainan. Dan yang jelas, si Barbie yang sedang keramas tentu saja tak mengenakan busana. 

Maka memanfaatkan gombal dan karet gelang, kubikinlah pakaian kemben buat dia pakai. Sedikit lebih canggih dari sekedar kemben, aku pernah mencoba membuatkannya baju. Hasilnya, yaaa.. gitu deh.. namanya juga anak SD yang iseng pegang apapun. Tahun 80-an awal gitu lho.. semua masih terasa menyenangkan tanpa teralihkan oleh tivi, gadget, dan teknologi.

Kembali mengakrabi jahit menjahit 2008, aku seperti ketemu mantan yang ngilang. Sueneng tak terkira. Buku craft pertama yang kubeli dan kupraktekkan adalah buku tentang bikin mainan dari flannel. Boneka jari, dsb. Tapi semuanya masih dua dimensi. Maka hingga dini hari aku sering berasyik masyuk mencoba membuat kreasi flanel bentuk hewan atau buah 3 dimensi, Waktu itu, koneksi internet, belum semurah sekarang. Medsos pun masih belum booming. Jadi untuk mendapatkan tutorial, masih agak-agak susah.



Move on dari flannel yang kurang menantang, plus aku sudah memiliki mesin jahit pertama, Janome LR1122, buku yang kumiliki selanjutnya Bag Boutique oleh Amy Barickman versi Indonesia. Sayangnya, penerjemahan buku oleh lini dari sebuah penerbit major ini kurang bagus. Editor dan penerjemahnya sepertinya tidak memahami dunia craft/jahit. Jadi pembaca pemula sepertiku pun kesulitan untuk memahami maksud dan istilah yang ada di buku itu. Tapi setidaknya, dari buku itulah aku mengenal istilah tas bentuk Hobo. Hehe.
foto pinjam dari https://www.facebook.com/Mutiara.Aleesha

Buku selanjutnya, kelas intermediate-advance, yang berhasil membuatku sebagai pemula kelabakan. Kali ini aku memutuskan beli buku asli bahasa penulisnya. Purses, Bags, & Totes oleh Moya’s workshop. Hampir bersamaan, tetanggaku membongkar koleksi bukunya. Buku2 terbitan Jepang jaman jadul yang diterjemahkan oleh Elexmedia sempat aku fotocopy –sudah gak terbit lagi bo’... Bentuknya imut, polanya sederhana, tapi cukup mudah dipahami sebagai dasar. Interaksi selanjutnya dengan tutorial bag making lebih banyak ngintip di web2yang share tutorial free, lalu kukembangkan sendiri. Pinterest bisa dikatakan salah satu lautan inspirasi bagai crafter macam aku.

foto pinjam dari http://mysew.blogspot.co.id/

Hingga, kemudian aku kenal yang namanya buku bag making Taiwan, dan majalah Cotton Life. Jika dulu aku hobi mengoleksi novel, buku pengembangan diri, dll, sekarang mengoleksinya buku2 craft. Hehe.. Beli pertama, PO di sebuah olshop 2,5 bulan bo’.. Selanjutnya malah kenal salah seorang supplier buku2 craft Taiwan yang super duper sabar dan ramah, mbak Bekti dan mas Amrih.
Biasanya, pola dari buku2 tersebut hampir tidak pernah aku jiplak langsung. Karena aku lebih suka mendesain dan membuat pola sendiri. Bisa lebih mudah aku pahami alurnya daripada harus memahami alur pikiran orang lain. 

Model2 nya biasanya aku ATM. Amati, tiru, modifikasi. Biar ada karakter kita masuk disana. Tapi, kadang, perubahan sedikit yang aku lakukan bisa berhasil, bisa juga kurang maksimal. Di tas Tweeny, misalnya (lihat buku Tas Handmade dari A ke Z). Seingatku aku ATM dari salah satu buku Taiwan itu. Ingin kubikin beda, lebih manis dengan renda dll. Tapi ternyata pemilihan bahan ring (poles dan tebal) dan penggunaan rivet justru membuatnya sedikit gahar. :p


Jadi begitulah, sekelumit perjalananku hingga berhasil menerbitkan buku tutorial tas sendiri plus penjelasan tentang alat, bahan, dsb dengan judul Tas Handmade dari A ke Z. Lalu menjadi salah satu contributor di majalah craft Taiwan, Cotton Life, edisi 25. Alhamdulillah.. J

Thursday, April 13, 2017

Kocokan arisan mesin jahit Janome St24, Janome CT2480xl, janome 2200xt, dan mesin obras 990D.
biasanya aku share di group wa aja. Tapi karena nggak bisa, jadi dishare di sini deh. hehehe.
yang sedang berjalan 6 group. Sudah katam 3 group.

Wednesday, January 18, 2017

Tas Bulan Separuh

Salah satu tas simple tapi manis. Halfmoon frame bag. pakai frame ukuran 15 cm. Tekniknya sama dengan bikin frame biasanya.
lapisan dakron pres tapi nggak aku quilt. Inner pakai suede. tambahin renda buat pemanis. :)

Saturday, January 7, 2017

Doctor Bag

Udah lamaaa bingit pengin bikin tas model ini. Jenis Doctor Bag yang pakai frame besi pipih. stalking di pinterest, tanya teman yang jual frame nya--Ayaran belum bisa produksi sendiri nih, untuk frame2 doctor bag-- dapatlah gambaran prinsip bikinnya. Kusesuaikan sama ukuran frame, 25 cm yang kupunya, dan teknik yang paling kusukai, jadilah si Tas Doctor ini. 
Sengaja kupilih bahan linen laminating dengan motif vintage yang elegan ini plus kulist sintetis doff. Inner, kusesuaikan dengan jiwa tasnya, kuberi suede. Dan karena nggak suka setrika2, lapisan aku pakai dakron pres aja. dijahit tindas. 
Saku model rits tempel. Aman buat  nyimpan dompet plus satu ruang di belakangnya.. Bag lock model tekuk, material warna brass alias poles.
Handle sling lebar 2,5 cm, handle carry lebar 2 cm. Ukuran tas p25xt22xl14 cm .

Cutting siang, tinggal nonton2 tivi dan melayani pembeli offline, Habis isya baru dipegang lagi. Stop kerjaan jam 2 dini hari. Terpaksa, meski rasa ingin menyelesaikannya. Body minta istirahat. Terusin jam 8, kelar pas adzan duhur.
Puassss banget bikin ini. karena sesuai sama yang kubayangkan. Dan jelas bakal masuk materi di buku yang akan kupublished sebentar lagi. InsyaAllah. Minta doanya ya.. semoga lancar. Resolusi yangsudah kutunda dari 4 tahun lalu, published buku craft lagi. :)



Thursday, January 5, 2017

Cara pakai walking foot

Cara pakai walking foot dengan besi untuk mensejajarkan jahitan.
Walking foot dipakai untuk menjahit tindas (quilting) bahan dengan batting (interlining) berupa dakron/silikon lembaran atau dakron pres agar bahan outer dan inner tidak mengkerut.
Proses quilting dengan batting biasa dilakukan saat membuat bed cover, praying mat, play mat, atau tas.



Tuesday, November 15, 2016

Dari Jago ke Miko

Jago namanya. Ayam jantan kesayangan keluarga kami yang ditemukan mati dengan tanda2 kekerasan di badannya. Pada suatu sore yang kuyup, ketika hujan mulai reda,  di antara batu nisan di belakang rumah kami, lebih dari 30 tahun lalu. 

Kami semua menangis. Merasa kehilangan lebih dari sekedar peliharaan. Jago nyaris layaknya anggota keluarga. Sebagai jantan Alpha, dia tak akan makan sebelum semua ayam peliharaan bapak, yg lumayan banyak waktu itu, dan sebagian besar dibebaskan berkeliaran di belakang rumah--yang tembus ke kuburan--makan. Dia akan mencari, memanggil temannya untuk pulang jika bapak atau kami memanggil-manggil sembari membawa sebaskom campuran bekatul dan nasi setengah basi plus irisan kangkung atau sisa masakan semalam.

Lalu saat semuanya sudah makan, baru dia menghampiri bapak yang sudah menyiapkan segenggaman jatahnya.

Jago namanya, yang mengenalkan kami sebuah rasa halus bernama cinta pada makhlukNya. Meski dia 'hanya' berwujud hewan.

Rasa itu datang dan pergi, dalam bentuk lain. Kucing domestik, ikan, hamster, kelinci,..Dan setiap kali mereka mati, selalu saja ada air mata. 

Dan selama rentang waktu itu, favorit kami, terutama buatku, selain Jago--bapak dan ibuku tak kreatif menamainya--adalah Eran Prinsie. 

Mereka istimewa karena kami bawa dari Pati saat berusia sekitar 3 bulan. Sudah mulai makan dry food. Diberi oleh mbak iparku nomor dua. Mereka menjadi makin istimewa ketika masku yang memberi Eran Prinsie meninggal Nopember setahun lalu.

Kucing temanku seumuran Prinsie sudah bereproduksi. Dan dia yang pemilih, kupikir mandul karena tak kunjung hamil juga. Hingga hampir dua bulan lalu aku curiga pada perut dan tanda2 lainnya.

Minggu, 16 Oktober jam 15.00 lahirlah Miko, anak pertama Prinsie di usianya yang keempat tahun. Normal, di bawah kursi beranda. Instingtif, tali pusar diputus dan plasenta dimakannya. Lalu disela kontraksi hendak melahirkan lagi, dia menjilati Miko, menempatkannya di area aman, sudut kamarku.

Malam itu, aku seolah menjaga seorang anak perempuan. Bukan hewan peliharaan. 

Andai klinik buka, pasti kubawa dia sore itu juga. Untuk memastikan proses kelahiran saudara Miko. Prinsie malam sampai pagi menjelang kubawa ke dokter manja sekali. Tak mau sekalipun kutinggal. Malam aku tidur di sebelahnya di lantai, menggelar kasur. Tanganku mengelusnya, badanku menghadapnya. Capek, ganti posisi, dia akan mengeong protes. 

Di klinik, dokter hewan memutuskan untuk mencoba induksi dulu. Jika masih tak bisa keluar normal, baru caesar.

Jam 3, aku ditelpon dokter, Prinsie harus caesar. Jam 16.30 aku ke klinik, datang pas dokter hampir selesai menutup bekas sc. Keempat kakinya masih terikat di meja operasi. Dan dia masih dalam pengaruh obat bius. Sentimentilku muncul demi melihat Prinsie harus caesar. Karena aku sendiri merasakan 2x SC; melahirkan Yasmin dan Ranu.

"Dia nggak mau makan dan minum, Bu," kata pegawai klinik. "Sama dokter dipaksa makan dan minumnya. Dia kucing yang pintar, sayang anak.. Dia bergerak kalau menyusui dan menjilati bayinya." 

Ah, anakku sayang... aku bangga pada insting keibuannya. Di saat kucing yang lain, kutahu menelantarkan anak2nya, dia yang kesakitan paska operasi masih lebih peduli pada anaknya.

Menyambangi lagi keesokan hari, sengaja kubawakan dia makanan dari rumah, dan kusodorkan di tanganku. Sama seperti saat dia kecil dulu, mau makan di pangkuanku, dari tanganku. Juga minum susu.

4 hari berikutnya, kami tak berjumpa. Aku, suami, dan anak2 harus ke luar kota. 

Senin aku datang, dia menyambutku dengan riang. Mengeong keras, bangkit di dalam kandang. 

"Iya, kita pulang, Nak." Kataku. Melunasi biaya operasi dan menginapnya sebesar 1.570.000

Melihat Prinsie merawat Miko, sungguh aku terharu dan bangga. Cara kaki depannya memeluk Miko saat tidur atau sambil menjilati, sungguh seperti manusia memeluk bayinya.

Melihat dia mengawasi di sudut kamar ketika Miko belajar jalan, melihat dia 'menyuruh' Miko kembali ke kamar ketika bayi 2 minggu itu keluar dari zona aman, dan ketika dia justru mendukung dan mendampingi anaknya mengekplorasi ruangan lain.

Sayang, aku tak bisa lebih lama menyaksikan itu semua. Sore, kondisi Miko menjadi buruk. Nafasnya  tersengal-sengal. Dia berkali-kali mengeong keras nampak kesakitan jelas. Dan Prinsie, ... aku tak tega menceritakan dan melihat lebih lama dia memeluk , menjilati Miko. Aku tahu ada yang salah  pada Miko. dia sakit, dan harus segera dibawa ke dokter. Klinik kutelpon tak ada yang mengangkat. Kuperkirakan sudah tutup. Hujan deras sekali di luar. Sederas air mataku kehilangan Miko... Sederas waktu kami menemukan Jago tergeletak diantara nisan.

Sampai kutulis ini, Prinsie masih mencari anaknya yang sudah mati. Miko menyusul saudaranya yang mati di perut, yang harus dikeluarkan lewat caesar 4 minggu sebelumnya. Menjelang maghrib dia dikubur suamiku di bawah pohon rambutan halaman depan rumah kami. Bersama hewan-hewan peliharaan kami lainnya yang sudah mati sebelumnya.

Meski hanya 4 minggu, Miko dan Prinsie menunjukkan padaku pemandangan luar biasa tentang kasih sayang seekor induk pada anaknya. Semoga aku, sebagai ibu, bisa menjadi lebih baik dan bijak menjaga, mendorong, mengasuh anak. Seperti Prinsie terhadap Miko.